Menu Pelanggan
| Designed by: |
| Air Minum dan Sanitasi itu Hak Rakyat |
|
| Written by Administrator |
| Tuesday, 13 July 2010 10:04 |
|
*Sulit nya Air Bersih.
AIR- minum dan sanitasi adalah kebutuhan dasar manusia. Keduanya mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi kualitas kehidupan manusia. Dunia sekarang ini prihatin dengan makin susahnya sebagian besar warga dunia mendapatkan akses air minum dan sanitasi yang layak. Para pemimpin dunia kemudian merumuskan keprihatinan itu dengan mencantumkan bidang air minum dan sanitasi di salah satu poin MDGs (Millenium Development Goals). Indonesia tergolong negara yang perlu bekerja keras di bidang tersebut. Sebagai gambaran, saat ini Malaysia telah mencapai pelayanan 100 % dimana rakyatnya telah berhasil mengakses air minum yang aman dan sanitasi yang layak. Sedangkan Indonesia masih jauh tertinggal. Untuk tahun 2015 saja baru mematok target 60,3 % penduduk bisa mengakses air minum yang aman. Lalu bagaimana pemerintah mengejar ketertinggalan di bidang tersebut ? Salah satunya dengan menganggarkan APBN sebesar Rp. 11,8 triliun untuk air minum dan Rp. 14 trilliun untuk sanitasi, anggaran yang jauh lebih tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Namun, APBN saja tidak cukup. Dibutuhkan APBD, serta peran serta stakeholder lainnya termasuk PDAM, KPS, perbankan dan non perbankan untuk mempercepat pencapaian target MDGs bidang air minum dan sanitasi. Pijakan dasar langkah penggarapan air minum dan sanitasi itu juga tertuang di PP No 16/2005 tentang SPAM. ”Ada poin pentingnya, yaitu dana Rp. 11,8 triliun diarahkan kepada pembangunan air minum non cost recovery, seperti di pedesaan, daerah rawan air, pulau terluar serta ibukota kecamatan yang selama ini belum mempunyai prasarana air minum. Sedangkan untuk cost recovery (PDAM Perkotaan) diharapkan ditingkatkan kemandirian yang ujungnya makin baik pelayanan pada masyarakat,” kata Budi Yuwono, Direktur Jenderal Cipta Karya, Kementrian Pekerjaan Umum. Banyak pihak diharapkan terlibat di dalam pencapaian target di atas, terutama pemerintah daerah. ”Pemerintah pusat sudah mendukung penuh dengan memfasilitasi berbagai program. Baik itu menghubungkan dengan perbankan sampai membuatkan rencana bisnis untuk PDAM. Pemerintah pusat serius membangun air minum dan sanitasi,”kata Budi. Soal air minum dan sanitasi layak untuk mendapat perhatian dunia. Bayangkan saja kota-kota akan terus bertumbuh, entah karena urbanisasi atau desa yang membesar jadi kota. Pertumbjuhan kota mencapai 2%. Sayangnya pertumbuhan tidak diikuti ketersediaan sarana yang layak dan mencukupi. Untuk itulah digelar APMCHUD (Asia Pacific Ministerial Conference on Housing and Urban Development) di Solo, Jawa Tengah pada 22-24 Juni 2010. Acara ini bertujuan sebagai ajang berbagi pemgalaman dalam penyelesaian permasalahan permukiman, termasuk air minum dan sanitasi. Harapan selanjutnya muncul suatu komitmen yang disusul kerjasama. “Pemerintah memilih kota Solo, karena inilah salah satu kota yang berhasil mempraktikan pendekatan berbasis masyarakat. Dalam hal penanganan permasalahan permukiman, Solo dinilai sukses dalam mengelola dan merelokasi PKL. Solo juga berhasil melakukan revitalisasi pasar tradisional, serta memindahkan warga di bantaran kali ke tempat yang lebar tanpa ada konflik.Diharapkan Indonesia tidak hanya sharing ide tapi ada praktik konkret " kata Budi. Air minum dan Sanitasi menjadi dasar bagi hidup yang sehat dan layak. Tak ada gunanya hidup dalam gemerlap tanpa ada air minum dan sanitasi. Masalahnya kesadaran akan hal itu tak tumbuh di banyak pihak. Pemerintah Daerah seharusnya menjadi aktor penting dalam pembangunan bidang ini.
*Kementrian Pekerjaan Umum Direktorat Jendral Cipta Karya. ( Majalah Tempo,Edisi 21-27 Juni 2010)
|

